Kondisi sosial-politik pada awal abad ke-20 juga turut memicu semangat kebangkitan nasional. Rakyat pribumi mengalami penderitaan akibat sistem pemerintahan kolonial Belanda yang menindas dan menerapkan kebijakan eksploitasi yang merugikan.

Novel Max Havelaar karya Eduard Douwes Dekker menjadi salah satu kritik paling tajam terhadap kebijakan kolonial yang tidak berpihak pada rakyat jajahan.

Kritik tersebut kemudian mendorong pemerintah Belanda untuk menerapkan kebijakan balas budi yang dikenal sebagai Politik Etis. Politik Etis mencakup tiga program utama, yakni irigasi, edukasi, dan transmigrasi.

Kebijakan ini memberikan akses pendidikan kepada sebagian rakyat pribumi, meskipun tidak merata. Pendidikan menjadi kunci terbukanya ruang berpikir dan kesadaran akan perlunya perubahan bagi masa depan bangsa.

Meski hanya sebagian rakyat yang bisa menikmati pendidikan, lahirnya kaum intelektual dari kalangan pribumi menjadi faktor penting dalam pergerakan nasional. Mereka menjadi motor penggerak perubahan sosial dan penyebaran semangat nasionalisme.