Tulisan saya ketika itu sudah saya abadikan dalam sebuah buku. Meski sederhana tapi paling tidak, jejak sejarah telah dimulai.

Kini, Sulawesi Tenggara bisa berbangga punya landmark baru, asa baru. Selain berperan penting dalam mempercepat geliat perekonomian masyarakat dan mobilitas barang, jasa dan manusia, jembatan ini juga memiliki daya pikat yang memukau.

Saya jadi ikut bangga (tepatnya terharu). Sebagai warga Kota Kendari, saya bisa merasakan atmosfer ikon baru yang kala itu hanya berupa tiang pancang dan fondasi, kini ikut mengantri berjam-jam sekedar melintasi jembatan fenomenal yang telah menjelma menjadi landmark baru Sulawesi Tenggara.

Sayangnya, animo masyarakat yang luar biasa, kerap terlihat mengabaikan protokol kesehatan.  Apalagi menghadapi libur panjang nanti, jembatan ini tentu akan menjadi destinasi wisata bukan saja dari warga lokal, tapi juga nasional bahkan internasional.

Saya khawatir jika masyarakat tidak patuh terhadap protokol kesehatan bisa jadi akan memunculkan klaster Jembatan Teluk Kendari. Ledakan pengunjung mestinya harus diantisipasi lebih dini oleh pihak pemerintah. Semoga. (*)