Mereka ada mulai dari Mabes Polri hingga ke desa-desa. Parameternya, bukan adu ‘banyak-banyakan’ menangani  kriminal, tapi masyarakat terayomi dan terjamin rasa amannya.

Masuknya lima nominator dari Kompolnas kepada presiden disusul oleh munculnya nama Sigit sebagai calon Kapolri, layak dipandang oleh semua perwira khususnya Pati penyandang bintang tiga sebagai ’ouput’ dari kompetisi dalam pengertian semacam sebuah pertandingan.

Jadi, bukan persaingan yang menghalalkan segala cara,  seperti digambarkan oleh Dirgayu, “... tak jarang pati (perwira tinggi, pen) Polri yang berpotensi menjadi calon Kapolri akan berupaya dengan caranya sendiri untuk masuk dalam kontestasi jabatan Kapolri dengan melakukan pendekatan dan komunikasi intensif dengan elit Parpol dan elit DPR serta Kompolnas, untuk mendapatkan restu dukungan (Unas, 2009: 28).

Para komjen yang dinominasikan itu, bila dilihat dari senioritas kepangkatannya kini, ternyata bervariasi dan tidak berurutan sebagaimana tahun kelulusan mulai dari 1987, 1988, 1989, dan 1991. Jadi tampak bahwa, kelulusan lebih dahulu dari Akpol, tidak memengaruhi kecepatan mencapai level jenderal.

Demikian pula dengan pengalaman menjadi Kapolda. Menjadi kapolda itu identik pernah memimpin wilayah hukum provinsi berikut ribuan anggota yang tersebar mulai dari Polda sampai ke Polsek-polsek. Tentang ‘track record’ selama berkarir di Polri, sulit untuk dikibuli karena memang terdata resmi.