Meski begitu, KF-21 masih lebih murah dari pesawat tempur canggih seperti Rafale dan Typhoon buatan Barat.
Sebelumnya, proyek ini sempat mandek lantaran Indonesia belum bisa membayar sebagian biaya produksi yang dijanjikannya.
Namun, The Korea Herald melaporkan Seoul dan Jakarta telah merampungkan term pembayaran November lalu dan saat ini tengah melanjutkan proyek tersebut.
"Indonesia akan melakukan pembayaran selama lima tahun ke depan hingga 2026, dan 30% di antaranya akan berupa transfer barang," menurut Administrasi Program Akuisisi Pertahanan Korea Selatan.
Sementara itu, dikutip dari zonajakarta.com, Pengembangan jet tempur KF-21 Boramae ini membuktikan jika insinyur Indonesia memiliki kemampuan yang sangat mumpuni.
