Oleh: Dr. Teguh Santosa

Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI)

KITA hidup di era ketika kecepatan mengalahkan kedalaman, dan sensasi mengalahkan substansi. Disrupsi digital yang semula dijanjikan sebagai demokratisasi informasi justru melahirkan paradoks: ruang publik semakin bising, tetapi semakin miskin makna.

Dominasi algoritma media sosial telah mengubah cara masyarakat Indonesia memproduksi dan mengonsumsi informasi. Algoritma tidak peduli pada kebenaran. Ia hanya peduli pada engagement: klik, komentar, dan share.

Akibatnya, muncul fenomena yang saya sebut “budak algoritma”. Kita bukan lagi pengguna platform, melainkan pekerja sukarela yang terus memberi makan mesin dengan emosi, amarah, dan drama. Sebab hanya itulah yang membuat algoritma menghujani kita dengan spotlight di atas panggung.