Baca juga: Jokowi Marahi Menteri Hingga Ancam Reshuffle Kabinet

Lambannya kinerja kabinet ini, kata Rangkuti, tidak bisa melulu dilihat sebagai kegagalan para menteri. Sejauh ini yang menjadi sorotan publik adalah sikap penerintah dalam penanganan pandemi COVID-19, yang dinilai sangat santai menghadapinya.

"Saya kira ada sebab dari Presiden sendiri yang selalu menekankan agar tidak membuat gaduh. Agar dalam menghadapi COVID-19 ini tak memperlihatkan sikap panik. Bahkan dikesankan sebagai sesuatu yang biasa dan akan dapat kita lalui dengan cara biasa yang dimodifikasi," jelasnya.

Sekalipun begitu, lanjut Rangkuti, adanya peringatan presiden untuk melakukan reshuffle bukanlah sesuatu yang tergesa-gesa. Bahkan, di periode pertama Jokowi, beliau juga melakukan reshuffle setelah satu tahun masa bakti periode pertamanya, dan ada kemungkinan reshuffle ini akan dilakukan setelah satu tahun masa periode kedua.

"Oktober 2020 depan adalah masa satu tahun priode itu. Jadi, besar kemungkinan reshufflenya akan dilaksanakan sekitar Desember atau awal Januari. Saya kira faktor reshufflenya bukan saja karena kelambanan kinerja kabinet merespon wabah COVID-19 tapi memang soal kinerja mereka umumnya sejak hari pertama dilantik sebagai menteri," ungkapnya.