Faksi-faksi ini juga didukung oleh finansial yang besar dan kuat, maupun faksi-faksi ini memiliki kekuatan sebagai konsep Patron-Klien yang amat kokoh dan sudah mengakar dengan kuat.
Sehingga tingkat kepatuhan dan kebersamaan antar Klien dan Patronnya akan amat sulit digoyahkan, meskipun kehadiran Jokowi sebagai kader baru amat disambut antusias.
Faktor kesulitan Jokowi selain dari Internal Partai Golkar adalah dari situasi di luar partai tersebut. Utamanya, preseden buruk dari Partai Solidaritas Indonesia (PSI). PSI memang telah memperoleh citra buruk karena memberikan "karpet merah" kepada Kaesang Pangarep anak bungsu Jokowi sebagai ketua umum.
Kaesang tak butuh waktu lama, cukup dua hari kader PSI, langsung diangkat sebagai Ketua Umum PSI. Perilaku PSI yang memberikan “karpet merah” ini sehingga menjadi perilaku yang memberikan noda kotor secara organisasi berpartai. Diyakini Partai Golkar akan menolak Jokowi bergabung kemudian langsung dinobatkan sebagai Ketua Umum Partai Golkar.
Patut diingat bahwa Partai Golkar adalah partai lama yang dibangun tidak dengan dasar personalisasi politik dengan adanya satu tokoh semata. Partai Golkar ini malah partai yang dibangun oleh banyak kader-kader mumpuni sehingga terbentuknya faksi-faksi.
