Tak masuk akal sehat, ada pula seorang perwira menengah yang pimpinan instansi Polri di tingkat kabupaten, terlibat kejahatan seksusal terhadap anak di bawah umur. Kalau si pimpinan itu punya kelainan, maka patut diduga, sekurangnya potensi itu baru termunculkan kali ini. Tapi, koreksi lebih dalam, tentu perlu dilakukan pada proses penerimaan dan selama pendidikan. Setidaknya, patut dipertanyakan, bagaimana masa lalu sejak kecil hingga kini seorang yang lulusan Akademi Kepolisian (Akpol).
Sebelum hakim dan “rombongannya” yang ditangkap APH setelah terima puluhan milyaran rupiah dari yang berperkara melalui pengacara, terungkap lebih dulu korupsi di sebuah BUMN. Mirip-mirip yang ditudingkan Mochtar. Selain oplos minyak --yang logikanya Negara rugi--, juga terkait dengan uang triliunan rupiah yang diterima direksi, meski mereka setiap bulan sudah bergaji puluhan miliar rupiah. Mungkin rakus ya!
Tak luput pula keluhan pengusaha retail yang merasa “tidak aman dan tidak nyaman” karena kerap dimintai duit oleh sejumlah pereman yang mengaku-ngaku anggota Ormas. Gubernur baru Jabar, Dedy Mulyadi, baru-baru ini turut melontarkan hal serupa, tapi ia enggan meladeni ajakan “duel debat” tentang kebenaran pemalakan ini dari sebuah Ormas.
Ada pula yang dari tahun ke tahun kerjanya tunggu warga yang mau renovasi rumah di suatu kawasan perumahan, Bila datang matrial bangunan, mereka mencegat dan memintai duit kepada si tukang yang merenovasi. Bahkan, mereka yang akan melakukan perbaikan listrik PLN di suatu perumahan, juga dicegat dimintai duit.
Di atas tadi hanya beberapa saja. Tetapi, melihat ragam mereka yang sengaja melibatkan diri, sungguh mengurut dada. Mulai dari yang kecilan-kecilan, pengusaha, pejabat, pengacara, aparat, dan APH seperti polisi dan hakim. Jumlah ini akan membesar lagi jika dimasukkan sejumlah pejabat, apakah itu kepala daerah, Menteri, politisi yang anggota Parlemen (daerah dan RI) atau bukan, petugas yang berhubungan langsung dengan perkara, anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU), anggota Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu). Pendek kata tinggal tangguk, beragam profesi terkena. Yang meciduk, benarkah tinggal tunggu kesempatan saja?
