BOMBANA, TELISIK.ID - Jumlah angka stunting di wilayah Pemkab Bombana masih tinggi. Pada periode survei tahun 2022 lalu oleh Lembaga Status Gizi Indonesia (SSGI), prevalensi stunting atau penyakit lambat pada pertumbuhan anak di Bumi Moronene mencatat sebanyak 26,8 persen.
Di tahun 2021 lalu, angka dengan keluarga berisiko stunting di Bombana mencapai 16.288, sedangkan pada tahun 2022 angka keluarga berisiko stunting mencapai 5.980.
Berbagai langkah pun kini digalakkan pemerintah setempat yang dilakukan dari hulu hingga hilir. Di antaranya memberi edukasi terhadap remaja di sekolah-sekolah, menyadarkan para ibu pemilik bayi tentang pentingnya imunisasi di posyandu.
Selain itu, pemerintah setempat melalui Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) terus melakukan pendampingan terhadap ibu melahirkan, akan pentingnya para ibu untuk memperhatikan 1000 hari pertama kehidupan (HPK) anak.
Tidak sebatas itu, upaya serius Pemda Bombana menuju target prevalensi 14 persen juga bisa dilihat pada pengalokasian anggaran penanganan stunting pada bidang infrastruktur, mulai dari penyediaan sanitasi, jamban, SR, hingga pembangunan sarana mandi cuci kakus (MCK) pada wilayah lokus stunting Bombana.
