"Jadi waktu itu saya masih honor, dan sekitar bulan Februari 2014 saya melamar di Baubaupost untuk jadi wartawan dan Alhamdulillah saya diterima, sekalian waktu itu saya juga jadi loper koran Baubaupost, jadi setiap pagi atau sore itu saya antarkan itu koran di beberapa sekolah yang berlangganan koran Baubaupost," kenang La Ode Ali.
Baca Juga: Diisukan Pindah ke PPP, Andi Sulolipu Kekeh di PDIP
La Ode Ali menyadari, kehidupan penuh dengan perjuangan. Sulitnya mencari pekerjaan sempat dirasakannya. Sedangkan mengandalkan uang honor mengajar yang tak seberapa jumlahnya, tentu saja tak mencukupi untuk menutupi kebutuhan keluarga. Apalagi dia menerima honornya setiap tiga bulan.
Hal itu memaksanya untuk mencari pekerjaan sembilan. Dia pernah menjadi papalele kelapa. Dimana, hampir setiap hari atau setiap pulang mengajar maupun saat libur sekolah, ia harus berjibaku dengan kelapa.
"Namanya juga kita cari uang, ya semua pekerjaan kita harus lakukan yang penting halal, seperti papalele kelapa, jadi tinggal saya sesuaikan saja waktuku. Jadi caranya saya sewa orang dia panjatkan kelapa, kelapanya keluarga. Kadang juga saya beli-beli kelapa kalo ada yang jual, habis itu saya kupas dan bawa ke pasar-pasar untuk dijual lagi," tuturnya.
