Oktovina terhenyak saat tahu ia ternyata tak sendiri, gubuk itu disesaki sekitar sepuluh perempuan tua, mengenakan baju adat dan mengisap tembakau linting yang membuat gubuk dipenuhi asap. “Mama..kasihan anak ini kalau ada asap tembakau,” ujar Oktovina pada perempuan-perempuan tersebut. “Tidak..ini agar anak dan ibu itu selamat,”jawab mereka.
Proses persalinan berjalan lancar. Bayi lahir, “namun tak bisa memotong tali pusarnya sesegera mungkin, saya harus menunggu placenta keluar dari rahim Ibu itu, lalu selanjutnya, orang yang dipercaya menggunakan daun labu, membungkusnya ke tali pusar bayi, menariknya dan memotongnya dengan bambu,” ceritanya.
Di tahun-tahun selanjutnya, Oktovina mulai memadukan kelahiran dengan perpaduan teknis medis dan tradisional. Ia misalnya menggunakan alat yang dipandang ‘aneh’ oleh warga Suku Mairasi. “Semua alat perlu dijelaskan, bila tidak mereka menganggap itu terlarang.”
Ia juga mulai mengajarkan menyusu dini pada ibu-ibu muda. Ia pernah melakukan suatu hal yang membuatnya didatangi kepala suku. “Saya memakaikan baju bayi, yang terjadi adalah kepala suku datang dan bilang, ibu..ibu ini siapakah? Kami sudah hidup dengan adat itu ratusan tahun tak bisa diganti begitu saja.”
Adat-adat yang seringkali dianggap ‘tak masuk akal’ atau bertabrakan dengan standar layak, sehat memiliki akar yang dalam di Suku Mairasi, sehingga tak mudah mengubahnya begitu saja. Sejak itu, Oktovina tak lagi bersikeras memaksa bayi-bayi tertangkup baju bayi hangat. Namun ia berhasil mengajarkan dukun di sana untuk memahami persalinan yang bisa menyelamatkan bayi dan ibu.
