Dalam keseharian, sebagian warga masih mengenakan cawat kayu tumbuk, gelang wawur—dari jumbai kayu—berwarna hitam yang diambil ditempat-tempat keramat, tas dari kulit kayu. “Saat lahir kan telanjang, lalu mengapa harus pakai baju? Jadi baju hanya dipakai saat ke gereja,” tutur Oktovina.

Mengenakan baju, sandal, bersekolah, ke gereja, mencari kerja kemudian menjadi bagian dari pergulatan adat suku Mairasi. Pince dan keluarganya menunjukkan bagaimana kehidupan mereka beranjak mendekati modernisasi dengan tarikan adat yang kuat. Pince, menempuh sekitar 150 kilometer berjalan kaki dari Kampungnya Mairasi bawah menuju Kota Teluk Wondama. Ia berjalan kaki karena anak-anak suku Mairasi selalu berjalan kaki menyusuri hutan.

Om Obet, seorang guru pedalaman menantang saya menyusuri hutan menuju pedalaman Mairasi.

“Jaraknya?”

“Tidak jauh, satu hari saja, nanti sambung pakai mobil perusahaan, yah kira-kira 80 kilometer..” jawabnya enteng. Glek..saya merasa melayang.