Jarak itu tak jauh bagi Pince, ibu muda dengan dua kaki di dua dunia ; adat dan modern. Ia misalnya kemana-mana dengan baju kaus, namun celana dalamnya tetap cawat kayu tumbuk.

Ia membawa tas kayu tumbuk yang berisi sirih. Pince tak boleh bertanya pada lelaki apa yang akan dilakukan lelaki itu. Perempuan hanya boleh bertanya pada perempuan (bila terkait pekerjaan perempuan) dan lelaki pada lelaki tentang pekerjaan lelaki. Sebaliknya, saya bertanya tentang apapun, pada siapapun, tak peduli lelaki atau perempuan.

Pria-pria Mairasi memperlakukan kesantunan untuk tidak menganggu gadis-gadis Mairasi. Bila itu terjadi maka denda dikenakan. Dalam tarikan modern yang luar biasa, sebagian pria Mairasi meninggalkan kampungnya dan bersekolah, namun tetap dengan tas kulit kayu tempat menyimpang pinang.

Suku Mairasi dikenal sebagai suku yang baik hati. Mereka menggunakan sistem sama rata dalam bermasyarakat. Hasil buruan rusa misalnya wajib dipotong dan dibagi rata terhadap seluruh warga, tidak terbatas pada kerabat. Bila dalam satu rumah terdapat 5 anggota keluarga, plus janin dalam kandungan, maka si pembagi  menyerahkan 6 bagian daging yang jumlahnya sama rata pada keluarga tersebut.  

Baca juga: Kisah Destri, Remaja Berparas Cantik Asal Konsel yang Pilih Masuk Islam