Ibu Pince, Mama Tua, yang hidup berdekatan dengan kesibukan lalulintas jalan raya dan deru kendaraan bermotor, melakukan satu hal secara tetap; menuju ke hutan, kadang berjalan kaki empat hari hanya untuk mencari akar kayu, kulit kayu, tumbuhan-tumbuhan untuk makanan mereka.
Bayi Pince yang lahir di hutan juga merupakan lambang bagaimana hutan tidak sekadar diciptakan untuk membuat suku ini bertahan di tengah desakan modernisasi dan perambahan, tapi juga menunjukkan kekuatan yang terus memanggil anak-anak suku Mairasi untuk pulang dan dikembalikan ke tempatnya.
Isu utama kemudian bukan saja tentang rasionalitas atau aturan dalam ilmu-ilmu medis, melainkan tentang sebuah dunia hutan yang kini berada dalam tekanan tambang, sawit dan pembukaan lahan untuk kebutuhan pemukiman.
Bayi perempuan mungil Pince yang lahir di hutan berusia 4 hari pada tanggal 9 April 2013. Karena dua amber—orang luar yang bukan suku Mairasi—berkunjung dan memegang jemari mungilnya maka keluarga bermurah hati memberikan kehormatan mengenakan nama dua amber pada bayi milik hutan ini, dan nama itu itu adalah: Indarwati Wahyuni, nama teman dan saya.
Nama itu akan melekat hingga pembaptisan Kristennya, dan dikenang sebagai nama modern di anak suku Mairasi. Segera setelah pemberian nama itu, saya digetarkan oleh respek, cinta dan semilir bau hutan. (*)
