“Kahar, jangan lupa ya ceritakan tentang pengalamanmu mengadvokasi warga di lokasi tambang Kalimantan.”
“Pasti.” Dan pria itu mulai mengeluarkan sarung siap tidur. “Poster sudah saya siapkan juga.” Ia selanjutnya berceloteh tentang makanan di Eropa dan memimpikan makanan Indonesia. Suaranya hilang setelahnya. Ia jatuh tertidur dengan dengkur halus. Ia meninggalkan Mai yang sibuk dengan laptopnya.
Ketika memutuskan berkampanye di Eropa, Mai mencoba sekeras mungkin terhubungan dengan organisasi besar seperti BHP Billiton, Churchil Mining plc, Royal Bank of Scotland, HBSC, Standard Chartered, Barclays atau International Power. Organisasi ini-- meski tak mengerukkan tangannya secara langsung ke batubara di Indonesia—namun terhubungkan dan memiliki kekuasaan yang menentukan nasib batubara Indonesia ke depan.
Wageningen University tak termasuk dalam daftar perusahaan yang ‘mengeruk batubara’. Tawaran rekannya, mahasiswa tahun pertama yang bahasa Inggrisnya masih tak karuan dan payah sekali dalam membaca peta dan petunjuk arah (membuat mereka tersesat di kereta menuju Wageningen) membuatnya memutuskan berhenti sejenak dari perjalanan diplomasinya yang serius. “Di sini bisa bertemu sejumlah peneliti dan mahasiswa-mahasiswa yang mungkin tertarik melakukan riset di wilayah tambang,” usul rekannya. Alasan lain adalah Presiden Indonesia, Soesilo Bambang Yudhoyono dijadwalkan berkunjung ke Belanda pada 6 October, dan menjadi pembicara di Wageningen University pada hari dimana ia dan Kahar akan melakukan presentasi tentang deadly coal—batubara yang telah mematikan keberlanjutan kehidupan warga sekitarnya--. Jumat,8 October 2010.
***
