Salah satu dokumen penting yang membuat Mai merasa pantas dan wajib mengelilingi Eropa adalah laporan setebal 40 halaman, dengan tulisan besar “dark materials’, laporan khusus berbahasa Inggris mengkuliti  dampak sosial, lingkungan dan ekonomi dari ketergantungan global batubara terhadap Indonesia dan India. Laporan ini terbit pada Agustus 2010, disiapkan oleh tim Nostromo Research for Mines and Communities (MAC) di London. Laporan tersebut melengkapi  atau tepatnya saling melengkapi riset tambang 2007-2009 yang dilakukan  Walhi dan JATAM atau organisasi Jaringan Tambang dimana Ia duduk sebagai Koordinator Nasional.

Mai bertahun-tahun berteriak di Indonesia soal tambang. Ia jatuh bangun dan menyadari tak bisa sendiri mengadvokasi tambang di Indonesia.  Butuh dukungan dan solidaritas international.  Ia menghabiskan waktu merapatkan barisan dengan Lembaga-lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) di Indonesia, mencoba berdiplomatik dengan anggota DPR, sampai kemudian tinggal bersama warga yang menjadi korban tambang. Ia juga menulis di sejumlah media dan menjadi pembicara soal tambang.  

Batubaralah yang mempertemukan Mai dan Kahar di Kalimantan. Kahar tak pernah memimpikan tentang Eropa. Ketika meringkukkan badan dengan nyaman dalam sarung, setelah berjanji menceritakan pengalamannya selama mengadvokasi warga yang menderita akibat pengelolaan tambang, Ia sepenuhnya baru sadar telah menginjak  salahsatu bagian Eropa,di sudut kota yang sapinya gemuk-gemuk; Wageningen.   

***

Hasil riset dan dokumen soal batubara yang tercetak di kepala Mai adalah deretan fakta tentang pengelolaan tambang di Indonesia. Saat Presiden Soeharto menjabat, tambang baik emas, nikel, minyak dan batubara menjadi komoditi andalan untuk mendongkrak perekonomian Indonesia. Ekploitasi dilakukan di sejumlah wilayah propinsi Indonesia, Papua, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, wilayah yang tengah berkembang, pembangunan berjalan tak merata dan mayoritas  penduduknya hidup bergantung pada kemurahan hati alam sekitarnya.