Mai menduga tak satupun dari pemberi izin itu memikirkan warga saat tangannya menjatuhkan stempel ‘setuju’ di kertas tambang. Parah sekali. Kecurangan dilakukan oleh pejabat paling tinggi, diikuti oleh mereka yang bekerja di bawahnya.  Mereka yang terlibat kemudian jadi bagian dari semboyan, bersenang-senang dulu, bersakit-sakit kemudian. Gubernur Kalimantan Timur ditetapkan menjadi tersangka korupsi pada tahun 2010, diikuti sejumlah anggota DPRD. Fakta lainnya adalah kekerasan, konflik internal, turunnya kualitas kesehatan masyarakat sekitar wilayah pengelolaan tambang dan dampak lingkungan seperti banjir.  

Di Kalimantan Selatan, 280 perusahaan memegang izin tambang berskala kecil. Nasib dua Kalimantan ini tak jauh beda, boro-boro memanfaatkan batubara untuk kebutuhan dalam negeri, mereka memiliki mengekspor 73 persen batubara keluar negeri. Di sekitar wilayah tambang inilah semua keluhan bertumpu ; penyakit, kemelaratan dan kehilangan kemerdekaan. Presiden Soesilo tak punya pilihan kecuali memperbaiki keadaan ini, tapi justru Mai tak melihat dimana bagian ‘rusak’ itu akan dan bisa diperbaiki oleh Pemerintah Indonesia. Memikirkan semua ini, perasaannya semakin tak karuan. Sumprit! Ia bekerja di bidang yang terus membuatnya keningnya berkerut-kerut.

***

Kahar membentangkan banner deadly coal di depan pintu kelas dimana kampanye Mai dan Ia akan segera di mulai. Acara akan dimulai pk 1 siang. Mahasiswa tengah beristirahat dan kemungkinan bisa melarikan diri dari buku-buku dan menghadiri acara deadly coal ini. Satu dua mahasiswa masuk , ruang kelas remang-remang dengan pantulan cahaya in focus di dinding. Mai mengingatkan rekannya untuk memberi kata pengantar.

“Terangkan tentang kami.” Ia berbisik. Rekannya mengangguk-angguk. Meski mahasiswa Wageningen, Ia tetap saja tak cukup siap memperkenalkan dua orang ini dalam bahasa Inggris yang sempurna.Bagaimana bila orang tak mengerti apa yang Ia katakan? Ia bolak balik dalam kelas, menghitung jumlah peserta dan perutnya tiba-tiba mulas.