“Dan..kau Kahar, bantu presentasi juga ya? Cerita saja.”

Kahar mengangguk ragu. “Bahasa Indonesia ya?”

“Iya, memang kamu mau pakai bahasa apa? Nanti kutranslet ke Inggris.” Mai menggoda. Kahar mengangkat bahunya.

Sekitar 10 menit sebelum pk 1.30, separuh ruang kelas telah terisi.  Seseorang mahasiswa Indonesia masuk, melangkahi sejumlah kursi  dan berbisik pada rekan sebelahnya, “Presiden Indonesia tak jadi datang.”

Mai dan Kahar mengangkat bahu. Saat tiba di terminal Utrecht pada tanggal 6 October, kabar pembatalan kunjungan Presiden Indonesia sudah Ia dengar. Namun mereka sudah terlanjur menuju Wageningen. Gerakan Republik Maluku Selatan atau RMS bukan musuh mereka—tidak juga teman--Jadi tak ada alasan membatalkan turnya ke Wageningen seperti Presiden Indonesia membatalkan kunjungannya. RMS lah alasan terbesar mengapa Presiden Indonesia tak jadi ke Belanda.