***
Surat kabar di Indonesia menuliskan kronologis pembatalan kunjungan Presiden Soesilo sebagai berikut.
Presiden RMS John Wattilete mengumumkan bahwa dirinya mewakili RMS resmi menggugat Presiden Indonesia. Gugatannya kini di meja pengadilan Den Haag (2 October 2010), pemerintah Belanda memberikan pernyataan, menjamin sepenuhnya keselamatan Presiden Soesilo (3 October 2010), pengadilan Den Haag menyidangkan gugatan Wattilete (5 October 2010), pada hari yang sama di bandara Halim Perdanakusumah Indonesia, Presiden Soesilo bersiap-siap memulai lawatannya. Jam menunjukkan pukul 12.30. Pukul 14.30 Presiden resmi mengumumkan Ia dan rombongannya membatalkan kunjungan ke Belanda. Jadi ini bukan soal takut, namun soal harga diri bung!
Di Wageningen University, pembatalan itu serta merta membuat mahasiswa-mahasiswa Indonesia yang bergegas mengklik RMS dan pembatalan kunjungan di internet.
Organisasi RMS memisahkan diri dari Indonesia sejak tahun 1950 dan sekitar 12,500 anggotanya mengungsi ke Belanda dan mendirikan pemerintah pengasingan di Belanda pada tahun 1966[2]. Dua gerakan RMS yang menghiasi suratkabar di Indonesia adalah gerakan pendudukan wisma duta republik Indonesia pada tahun 1970, saat Presiden Soeharto (almarhum) berkunjung. Gerakan berikutnya justru berselang 37 tahun setelahnya, yakni sejumlah pemuda Maluku mengibarkan bendera RMS di depan hidung Presiden Soesilo saat perayaan hari keluarga nacional diselenggarakan di Ambon. Mengapa jaraknya begitu jauh dan panjang? Apakah ini mereka generasi berikut dari RMS? Puncaknya adalah memasukkan gugatan terhadap Presiden Soesilo di pengadilan Den Haag dengan tuntutan ; tangkap pelaku pelanggaran HAM. Suratkabar lainnya menyebut penundaan kunjungan itu adalah preseden yang menunjukkan ketidakmampuan Presiden Soesilo. “Cuma Presiden Soeharto yang berani”[3].
