Bagi Mai, Presiden hadir atau tak hadir, Ia telah memulai tur deadly coalnya. Ia telah meminta pemerintah Indonesia untuk memikirkan persoalan tambang ini sejak dulu, duluu sekali dan kepalanya berdenyut ketika tahu hanya sedikit perbedaan yang terjadi. Jadi Presiden Soesilo datang atau tidak, Ia tak melihat perbedaan berarti. Indonesia telah mati kutu menghadapi investor tambang. 

***

Layar di depan berkedap kedip ketika foto dampak tambang memenuhi dinding ruang kelas. Separuh wajah Mai dikilasi cahaya in focus.

“Ini dampak yang tak dipungkiri.” Ia menklik tombol di tangannya. Titik merah berkedip-kedip di foto lahan galian dengan genangan air coklat memenuhi layar depan. Bayangkan sebuah lapangan sepakbola yang dikeruk dalam-dalam pada musim hujan, tak ada warna hijau tersisa kecuali kubangan dipenuhi air coklat.

“Penyakit”. Perempuan dan bayi kecilnya. Sekujur tubuh bayi itu berbintik-bintik merah.  Ironi sekali, Ia terlahirkan dengan beban yang Ia tak minta dan bayangkan sebelumnya. Sisi tambang memilukan bukan laporan yang menyenangkan bagi pengelola tambang asing. Di luar dari tekanan international untuk membuat perusahaan mereka dianggap berstandar dari sisi hak azasi manusia, mereka juga berurusan dengan tetek bengek pemerintah Indonesia. Jadi urusan penyakit-kemiskinan adalah hal yang seharusnya tak muncul di publik.