Indonesia telah meroket sebagai penghasil thermal batubara sejak 2008. Pada tahun sebelumnya saja, seperempat atau 25,5 persen dari total thermal batubara terserap pasar international[4]. Memiliki termal batubara membuat Indonesia jadi incaran investor besar.

Seorang mahasiswa asal Belanda mengangkat tangan.

“Bagaimana Anda melihat orang di luar seperti kami ini bisa membantu?”

Mai terdiam sejenak. “Karena itu kami datang ke sini.” Hening. “Kami butuh solidaritas dari semua pihak untuk melihat persoalan tambang ini bukan sekadar  mesin penghasil uang. Perusahaan-perusahaan besar yang membuat tambang Indonesia terus beroperasi adalah perusahaan yang berada di sekitar kalian. Mereka dekat..dekat sekali. ”

Pemerintah memposisikan tambang-tambang di Indonesia sebagai tambang uang. Pihak asing memandang Indonesia sebagai negara  yang mudah dari sisi investasi, namun di sisi lain  konflik berkepanjangan memicu kekhawatiran. Toh keduanya baik Pemerintah Indonesia maupun pengelola tambang paham bahwa sebagai sebuah bisnis, tambang dikelola dengan resiko besar. Pertama mereka akan menghadapi tekanan dari alam karena tambang tak terbaharukan, kedua daya rusaknya membutuhkan biaya tak sedikit, dan tentu saja bagi pengelola tambang ; ekspor lebih menguntungkan daripada membuat hasil tambang beredar di Indonesia, yang skalanya kecil dan harganya tak menggiurkan.