Ketika kalimat pertama dilanjutkan dan dihubungkan dengan kalimat kedua, kental terasa adanya stigma atau mungkin stereotip. Akan tetapi, catatan penting dari event ini, ternyata tak ada peserta yang reaktif lantaran tersinggung. Bahkan, ada yang mengangguk-anggukan kepala sembari melempar tawa. Tampaknya, semua memahami dan dewasa. Lantas, apa sesungguhnya yang terjadi?
Secara kebahasaan stigmatisasi dapat diartikan, “Konsepsi mengenai sifat suatu golongan berdasarkan prasangka yang subyektif dan tidak tepat”. Sementara stereotip dapat diartikan “Ciri negatif yang menempel pada seseorang karena pengaruh lingkungannya” (KBBI, 2002: 1091).
Terkait stigma atau stereotip, mengingatkan saya pada ceramah kebudayaan “Manusia Indonesia” (Sebuah Pertanggungjawaban) oleh Mochtar Lubis, 44 tahun silam. Ceramah ini dipidatokan Mochtar, budayawan, sastrawan, dan wartawan, di Taman Ismalil Marzuki (TIM), Jakarta, pada 6 April 1977.
Isi utama ceramah itu membicarakan enam sifat manusia Indonesia, di samping sifat-sifat lainnya. Keenamnya yaitu Munafik atau hipokrit, yang di antaranya menampilkan dan menyuburkan sikap ABS, asal bapak senang; Enggan dan segan bertanggung jawab atas perbuatannya; Bersikap dan berperilaku feodal; percaya takhayul; Artisitik, berbakat seni; Lemah watak.
Meski Mochtar menyatakan, “Ciri artistik manusia Indonesia adalah yang paling menarik dan memesonakan, dan merupakan sumber dan tumpuan harapan bagi hari depan manusia Indonesia” (2017: 33), tak urung masih saja mengundang polemik sengit, terutama dengan intelektual Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono, seorang psikolog. Sarlito menuding Mochtar tidak ilmiah. Pernyataannya tidak didasarkan pada data hasil penelitian. Maka, hal yang dipaparkan Mochtar bisa terjadi pada bangsa mana pun di dunia (Kompas, 17 April 1977).
