Polemik intelektual secara opini berlanjut tak hanya antara Mochtar dan Sarlito, tapi juga mengundang “rasa tidak terima” Margono Djodjohadikoesoemo, intelektual Jawa dan pendiri Bank BNI. Margono berpendapat tentang aristokrasi yang dihubungkan dengan pernyataan Mochtar yang mengecam keras berlangsungnya feodalisme di Indonesia. Jangan hanya dilihat dari segi negatifnya.
Aristokrasi menunjukkan pula sikap dan budi mulia (Mochtar, 2017: vi). Margono adalah anak seorang Wedana Banyumas di masa lalu dan cucu buyut dari Raden Tumenggung Banyakwide, seorang pengikut setia Pangeran Diponegoro
Seorang pengajar dan biolog, Dr. Wildan Yatim pun ikut berpendapat. “Saya beranggapan segala tabiat buruk yang diketengahkan Mochtar Lubis itu hanya bersifat sementara manusia Indonesia. …Lebih-lebih jika dipikirkan dalam kalbu kita ada rasa keagamaan…”, tulis lanjut Wildan, yang juga novelis dan cerpenis. (Kompas 24/5/77 dalam Manusia Indonesia, 2017: 109).
Akan tetapi, Pemimpin Redaksi Harian Kompas, Jakob Oetama yang berlatar pendidikan tinggi sejarah, secara arif menengahinya tanpa mengunakan kata “stigma”, melainkan “stereotip”. Menurut Jakob:
“Stereotip tidak seluruhnya benar, tidak pula seluruhnya salah. Stererotip tumbuh dalam benak orang karena pengalaman, observasi, tetapi juga oleh prasangka dan generalisasi. Tetapi saya cenderung berpendapat, stereotip bermanfaat sebagai pangkal tolak serta bahan pemikiran serta penilaian secara kritis, maka aktual dan relevanlah buku ini” (pengantar Manusia Indonesia, 2017: vii).
