Tetapi figur Kaesang sendiri sampai saat ini belum memikat masyarakat Kota Depok secara keseluruhan, Kaesang masih diragukan oleh warga Kota Depok. Keraguan bukan saja, ia akan maju sebagai wali kota depok, tetapi juga keraguan Kaesang akan menang, dan yang terbesar adalah Kaesang akan menawarkan perubahan seperti apa untuk Kota Depok lebih baik.
Kaesang saat ini telah menghadirkan blunder, sebab PDIP sudah mulai geram. Kaesang seperti mengabaikan identitas dirinya dan keluarga besarnya adalah bagian Banteng Moncong Putih. Meski begitu, penulis meyakini Kaesang diyakini saat ini juga tidak sedang membesarkan partai lain.
Kaesang sekadar mencoba melihat sejauhmana kepopuleran dirinya, Kaesang menyadari PSI hanya satu kursi saja, tidak mungkin tiba-tiba mereka jadi pemain penting di Kota Depok.
Jadi, Kaesang hanya sedang berusaha menaikkan posisi tawar dirinya kepada PDIP di Depok maupun di Jawa Barat, utamanya juga ditujukan kepada Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDIP. Kaesang melakukan ini, agar PDIP benar-benar melirik dirinya dan tidak meragukan dirinya untuk terjun ke kancah politik.
Sebab, Kaesang dalam persepsi publik tidak seperti Gibran yang merupakan sang Kakak telah terlihat menonjol dalam berpolitik. Inilah alasan Kaesang membiarkan dirinya dan kepopulerannya di dompleng oleh PSI. (*)
