PSI bisa mencontoh perilaku yang positif dari Partai Persatuan Pembangunan (PPP) yang telah menjadikan Sandiaga Uno sebagai Kader PPP untuk ditawarkan sebagai calon wakil presiden (cawapres) mendampingi Ganjar Pranowo. PSI yang ada saat ini, semenjak di pegang oleh Giring Ganesha, tak ada lagi ide segar, partai ini malah banyak kehilangan kader-kadernya yang potensial.

Semestinya, PSI percaya diri saja misalnya dengan mengajukan Ketua Umumnya Giring Ganesha maupun mantan Ketua Dewan Pembina PSI Grace Natalie. Namun PSI sepertinya telah menyadari Ketua Umumnya tak laku “dijual” untuk sekadar strategi politik, maka yang didorong kepada publik adalah pendomplengan terhadap popularitas Kaesang.

Bahkan, untuk sekadar dipampang foto Ketua Umumnya Giring Ganesha, tampaknya kader-kader PSI mungkin sudah merasa malu bukan sekadar tidak lagi percaya.

Strategi politik yang dilakukan oleh PSI menunjukkan partai ini tidak punya visi-misi, pengaturan yang ketat dalam berorganisasi, maupun nilai-nilai perjuangan kepartaian. PSI sekadar berusaha menjual sosok figur semata, tetapi tanpa disertai komitmen yang akan dibangun, sebab tak disertai wacana visi-misi yang ditawarkannya untuk Kota Depok.

Andai saja, PSI mendapatkan tambahan kursi. Penulis menyakini PSI belum tentu akan menjadi pemain penting dalam poros koalisi. PSI disinyalir jika naik jumlah kursinya tidak akan banyak, sebab sekarang ini saja hanya memperoleh 1 kursi, apalagi sampai naik peringkat tiga besar rasanya hal mustahil, sebab Kota Depok sudah dicengkram erat oleh PKS menuju dua dekade. Artinya PSI diyakini sekadar partai gurem yang meramaikan Kota Depok saja.