Sedangkan, jelas-jelas saat ini beberapa wilayah juga sedang kosong, seperti kosongnya kursi Gubernur Jawa Tengah, Gubernur DKI Jakarta, dan Gubernur Banten, yang sebelumnya sempat dikuasai oleh PDIP. Jadi nasibnya Kaesang berada di tangan PDIP, bukan oleh partai gurem seperti PSI saat ini.

PSI dengan menggunakan strategi politik mendompleng Kaesang, sedang menunjukkan PSI adalah Partai Gurem yang membutuhkan bantuan Kaesang untuk mendongkrak perolehan kursinya di Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Depok.

Kaesang memang akan turut dibantu oleh Presiden Jokowi, namun tidak lagi sekuat dulu peran Jokowi membantu Kaesang. Sebab, Jokowi akan segera mengakhiri jabatannya selama dua periode sebagai presiden.

Sehingga yang ada adalah Presiden Jokowi mencoba mendorong kembali anaknya ke PDIP, dengan kejelasan bahwa tujuh kemenangan telah diberikan oleh PDIP terhadap Jokowi beserta keluarga seperti di antaranya Gibran sebagai Wali Kota Solo dan Bobby Nasution menantu kedua Jokowi sebagai Wali Kota Medan.  

Saat ini antara Kaesang dan PSI dapat dikatakan bahwa Kaesang dapat saja sedang memainkan Gimmick Politik. Gimmick ini untuk melihat keefektifan dalam menaikkan popularitas dirinya, sehingga Kaesang diperhitungkan dalam kancah politik untuk diusung sebagai calon kepala daerah.