"Ketika mereka (para perempuan) pandai menenun, mereka dapat merajut kehidupannya, karena sesuai sejarahnya maka kegiatan menenun dilakukan di bawah rumah," ucap wanita yang kerap disapa Lia.
Kepercayaan tersebut dipegang teguh dan diwariskan secara turun temurun, karena diyakini bahwa kemampuan menenun bisa menjadi bekal untuk merajut kehidupan yang akan berpengaruh pada kehidupan rumah tangga nantinya.
Hal ini kemudian terbukti, ketika berkunjung ke desa-desa yang ada di Mawasangka, pengunjung akan mendapati banyak ibu-ibu dan anak perempuan yang sedang menenun di samping atau di kolong rumah panggung.
Baca Juga: Nikmati Keindahan Pulau Maginti Muna Barat
Namun, kegiatan menenun ini tidak bisa dilakukan setiap hari. Ada waktu-waktu tertentu dimana kegiatan menenun menjadi aktivitas yang dilarang, misalnya saat ada kedukaan, baik yang meninggal adalah keluarga penenun maupun warga yang tinggal di wilayah itu. Khusus di hari-hari tersebut, masyarakat tidak diperbolehkan menenun.
