Sampai di suatu ketika, keduanya malah terjebak ritual sesat pengikut Kajiman. Kajiman sendiri adalah iblis yang disembah untuk pesugihan yang mana hanya hanya weton istimewa yang bisa mengalahkan kekuatan Kajiman.

Film itu sendiri terbilang cukup berani menampilkan kisah horor dari nama hantu yang kurang terkenal. Meski tema pesugihan telah tenar di masyarakat Indondesia, namun sosok Kajiman terasa baru.

Film itu juga menampilkan kisah horor yang minim Jumpscare (mengagetkan) dan alur yang slowburn (lambat mencapai klimaks). Hal ini sendiri menimbulkan perbedaan pendapat diantara penontonnya, ada yang suka dan ada yang tidak. Salah satu penonton yang menyukai alur minim Jumpscare ini adalah Sitti Rahmah.

"Suka karena jalan ceritanya bikin penasaran bukan, cuma nakut-nakutin dengan cara dibikin kaget," tutur Rahmah pada Telisik.id, Sabtu (27/5/2023).

Lebih lanjut, penonton lain yang justru tidak menyukai adalah Alfa, seorang wanita dengan bentuk tubuh yang berisi serta mengenakan pakaian serba hitam saat menonton film ini.