Pria kelahiran tahun 1953 di Sulawesi Selatan (Sulsel) itu mengaku telah membawa becak sejak umur 17 tahun di Kota Makassar. Sejak itu, becak sudah menjadi bagian hidupnya selama 50 tahun terakhir atau sudah setengah abad lamanya.
Dari kampung halamannya, ia hijrah ke Kota Kendari pada tahun 2006 untuk mencari peruntungan dan profesinya masih ia lakoni sebagai tukang becak di area Kota Lama. Ia sangat setia dengan pekerjaannya itu.
Baca juga: Sosok Sartono, Pencipta Lagu Hymne Guru
Namun, sang kakek mengaku tak sekuat dulu lagi yang mampu mengangkut penumpang walau jaraknya jauh sekalipun.
Pendapatannya pun berkurang drastis, kini dalam sehari mengayuh becak, Daeng Sikke hanya menghasilkan paling beruntung sebanyak Rp 25 ribu saja. Sepinya penumpang dan usia yang kian menua jadi penyebabnya.
