Ia mengatakan, dahulu anak-anak biasanya memainkan Lojo ketika berkumpul bersama teman-teman atau memiliki waktu luang. Permainan dilakukan di halaman rumah maupun lapangan dengan permukaan tanah yang rata.

Peralatan permainan dibuat menggunakan bahan yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar. Tempurung kelapa dibentuk menjadi lojo, sedangkan bambu dipotong untuk dijadikan kasuka.

Dalam permainan tersebut, peserta dibagi menjadi dua kelompok yang saling berhadapan. Setiap kelompok berusaha menjatuhkan lojo milik lawan dengan menggunakan kasuka. Pemain harus memperhitungkan arah pukulan agar mengenai sasaran.

Menurut Nia, permainan ini tidak hanya dimainkan anak-anak. Remaja hingga orang dewasa juga mengenalnya dan terkadang ikut bermain ketika berkumpul bersama warga.

“Dulu orang dewasa juga biasa main, bukan anak-anak saja. Kalau sudah berkumpul, kadang ada yang mengajak bermain Lojo. Sekarang memang lebih sering anak-anak yang main, tapi permainan ini masih dikenal di kampung,” tuturnya.