Ia menambahkan, permainan serupa juga dikenal di sejumlah wilayah Kepulauan Buton, meskipun penyebutannya dapat berbeda di setiap daerah.
Reva (21), warga Desa Lapandewa Kaindea, mengatakan Kalojo-Lojo masih dimainkan anak-anak ketika memiliki waktu luang. Permainan tersebut dilakukan bersama teman-teman dengan membentuk kelompok.
“Kalau main Lojo paling seru kalau ramai-ramai. Biasanya kami bagi kelompok dulu, kemudian saling berhadapan. Masing-masing berusaha menjatuhkan lojo lawan. Jadi, harus pintar mengarahkan kasuka supaya pukulannya tepat,” kata Reva.
Ia menjelaskan, permainan ini tidak membutuhkan perlengkapan khusus atau biaya untuk membeli alat. Tempurung kelapa dan bambu yang digunakan dapat ditemukan di sekitar lingkungan tempat tinggal.
Selain dimainkan saat waktu luang, Kalojo-Lojo terkadang dimasukkan dalam perlombaan pada kegiatan kampung. Melalui kegiatan tersebut, anak-anak dapat mengenal cara bermain sekaligus perlengkapan yang digunakan.
