Selain sebagai hiburan, kantola menjadi sarana komunikasi untuk menyampaikan pendapat, perasaan, dan pesan kepada orang lain. Melalui permainan syair, masyarakat dapat mengungkapkan pikiran dengan tetap memperhatikan tata krama.
Pada masa lalu, kantola kerap dimainkan untuk memeriahkan hajatan warga. Pertunjukan ini hadir dalam pesta perkawinan, katoba, karia, kangkilo atau sunatan, serta perayaan hari kemerdekaan Indonesia dan hari jadi Kabupaten Muna.
Namun, keberadaan kantola kini menghadapi persoalan regenerasi. Penutur dan pemain yang masih aktif semakin terbatas, sedangkan sebagian orang yang menguasai tradisi tersebut telah berusia lanjut.
Wa Ode Muuma (68), warga Desa Matano Oe, Kabupaten Muna, mengatakan anak muda kini semakin jarang mengenal kantola. Ia mengingat tradisi tersebut dahulu dimainkan masyarakat setelah panen, tetapi kini hanya sedikit generasi muda yang mengetahuinya.
"Sekarang sudah hampir tidak ada lagi anak muda yang tahu Kantola. Dulu tiap habis panen pasti kami mainkan, sekarang hanya orang tua saja yang ingat. Kalau tidak diajarkan lagi, tradisi lisan ini akan hilang begitu saja," ujar Wa Ode Muuma kepada telisik.id, Rabu (14/10/2026).
