Oleh: Hasni Tagili, M.Pd
Praktisi Pendidikan Konawe
TANGGAL 21 April diperingati sebagai Hari Kartini. Nama Kartini sendiri, oleh kaum feminis, sering dicatut sebagai pejuang emansipasi perempuan. Namun, benarkah demikian?
Kegelisahan hati R.A Kartini tertuang dalam buku yang berjudul Door Duisternis tot Licht (Armijn Pane menerjemahkannya ‘Habis Gelap Terbitlah Terang’).
Ia prihatin menyaksikan wanita Jawa yang terkungkung kebebasannya untuk menuntut ilmu. Kartini menginginkan hak pendidikan untuk kaum wanita sama dengan laki-laki. Tidak lebih.
