Ia juga berharap kepada pihak PDAM agar segera memberikan seluruh hak-hak yang sempat tertunda agar tetap semangat dalam melayani masyarakat pada sektor pelayanan air bersih juga semakin meningkat.

"Kami masuk bekerja di PDAM Busel ini dengan harapan hidup kami bisa berubah. Minimal tingkat kesejahteraan kami meningkat sedikit. Tapi yang kita lihat malah lebih makmur tukang ojek dari pada kita karyawan 100 persen di PDAM ini. Makanya kita ini cari pekerjaan lain untuk menghidupi anak istri kita," urainya.

Pada kesempatan itu, ia menduga ada indikasi korupsi yang terjadi di tataran pejabat PDAM. "Jadi yang bisa kami lakukan bawahan ini palingan korupsi waktu. Ini kami lakukan untuk mendapat pekerjaan lain agar menghidupi anak istri," imbuhnya.

Sebelumnya, Dirut PDAM Busel, Tamrin mengaku telah membayarkan seluruh gaji karyawannya. Hal ini dikatakan Tamrin menyusul adanya komplain yang dilayangkan salah satu mantan karyawannya, Datsin.

Perlu diketahui, puluhan miliar anggaran daerah telah dikucurkan di PDAM Busel. Tahun 2018, kurang lebih Rp 17 miliar PDAM mendapat dana segar. Tahun 2019, sedikitnya 10 miliar PDAM kembali mendapat anggaran. Terakhir, pemerintah daerah mengucurkan anggarannya sebesar Rp 5 miliar.