“Kalau hari pasar biasanya lebih ramai pembeli. Kalau pendapatan, bisa sekitar Rp 200 ribu sehari. Tapi itu tergantung juga dari berapa banyak yang datang membeli,” katanya.
Menurut Insana, jumlah penjualan bergantung pada banyaknya pembeli yang datang. Ia berharap usaha kasoami yang dijalankannya tetap bertahan seiring minat masyarakat terhadap makanan tradisional tersebut.
Selain menjadi sumber penghasilan bagi penjual, kasoami juga masih dikonsumsi warga karena mudah dipadukan dengan beragam lauk. Ikan bakar dan ikan asin menjadi pilihan yang kerap disandingkan dengan makanan berbahan ubi kayu itu.
Salah seorang pembeli, Tia (42), mengatakan kasoami menjadi salah satu makanan khas daerah yang masih disukainya. Ia biasa menyantapnya bersama ikan karena perpaduan tersebut sesuai dengan selera makan masyarakat Muna.
“Saya suka kasoami karena memang makanan khas daerah kita. Kalau dimakan dengan ikan, apalagi ikan bakar atau ikan asin, rasanya cocok sekali. Makanan seperti ini jangan sampai hilang, karena sudah menjadi bagian dari makanan orang Muna,” tuturnya.
