Ia menjelaskan, saat air laut sedang surut, di bawah pantai dan di sela batu pulau mengalir sumber air yang jumlahnya ratusan, bahkan hampir seribu aliran ke arah laut, uniknya rasa air tersebut bukanlah asin melainkan tawar meski dari laut.
Sebagai pantai desa, wisatawan yang berkunjung ke pantai tersebut tak dipungut biaya masuk, alias gratis. Aksesnya pun sangat mudah karena pintu gerbangnya yang terletak di pinggir jalan.

Meski indah, Tsagif sedikit menyayangkan hamparan pasir di pantai tersebut yang sekarang makin sedikit karena aktivitas penambangan.
“Dulu masih bisa buat main mini soccer saking banyaknya pasir, kalo sekarang udah gak bisa karena pembangunan mayoritas di Wakatobi menggunakan pasir pantai,” jelasnya.
