Selama ritual berlangsung, para istri dari perangkat adat tersebut mempertahankan sikap diam. Hal ini melambangkan ketenangan kampung, menandakan bahwa tidak ada huru-hara saat pelaksanaan ritual adat tersebut.

Kepala Desa Gunung Sejuk, Iji Wijaya, mengatakan bahwa ritual Mataano Santa diadakan setiap tahun pada bulan September atau Oktober. Ritual ini melibatkan masyarakat dari dua desa, Lipu Mangau dan Gunung Sejuk, yang tergabung dalam satu lembaga adat.

Setelah Mataano Santa, masyarakat akan melanjutkan dengan ritual Mataano Galampa, yang dilakukan pasca panen raya setiap Februari.

Baca Juga: Wisata Batu Buti Baubau Jadi Incaran Turis Domestik dan Mancanegara

Baik Mataano Santa maupun Mataano Galampa memiliki inti yang sama: ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas hasil bumi yang melimpah.