Yang artinya: Tumbu gulupu dan pembuatan kue karasi ini, sudah ada sejak dari orang tua jaman dulu. Jaman sekarang sekarang orang tidak ingin repot (susah). Orang mengejar mudahnya. Orang memerintah uangnya.
Pola pikir masyarakat yang mulai berubah, dari tradisional ke modern, akhirnya mereka pada umumnya lebih memilih cara yang lebih instan.
Dulu, untuk menghasilkan gulupu dari 6 liter beras, waktu yang dibutuhkan kurang lebih 2 jam. Itupun berasnya ditumbuk bergotong royong. Yang melibatkan kurang lebih 5 orang. Tiga orang juru tumbuk. Dan 2 orang juru ayak. Ayakannya biasanya menggunakan kain sifon atau chiffon. Yakni sejenis kain yang terbuat dari bahan sintetis, yang kainnya halus, ringan dan transparan.
Pelaku tumbu gulupu, rata-rata hanya dilakukan oleh kaum ibu-ibu saja. Dan kadang sesekali anak-anak ikut membantu. Penulis sendiri, sejauh yang saya ingat, pernah ikut tumbu gulupu waktu masih SD kelas 6, di tahun 2000.
Irama bunyi anak lesung menumbuk beras, adalah bunyi khas tersendiri. Apalagi jika ada beberapa kelompok ibu yang menumbuk, maka kedengaran ramai bunyi "duk, duk." Kalau dari kejauhan, bunyi ini kedengaran seperti alat musik yang sengaja dimainkan.
