Setelah menjadi tepung, maka mulailah proses pembuatan karasi. Dimulai dari menguleni tepung beras dengan air, dengan tambahan sedikit tepung kanji, gula dan garam. Lalu dicetak dan digoreng.

Biasanya, yang ambil bagian dalam jurusan membuat karasi di setiap acara di atas itu adalah para ibu yang sudah berumur.

Kini, dengan maraknya industrialisasi sampai ke pelosok kampung, tepung-tepung beras olahan pabrik telah mengambil tempat di hati masyarakat. Karasipun kini telah dijadikan lahan bisnis yang subur.

Dulu, dalam setiap acara kampung yang membutuhkan sesajian karasi, orang mesti harus tumbu gulupu secara bergotong royong dulu. Barulah dibuat karasi.

Sekarang? Tanpa perlu repot, yang punya acara tinggal memesan saja sama si penjual karasi. Dan urusanpun beres. Ini menguntungkan bagi penjual karasi. Juga bagi pembeli, yang merupakan orang perantauan. Maksudnya adalah, jika orang Tomia yang pekerjaannya di luar daerah, yang sesekali pulang kampung untuk mengadakan hajatan, ia tak perlu lagi merepotkan orang sekampung untuk tumbu gulupu. Dan ia akan terhindar dari cibiran orang kampung seperti ini" Huh! Dia cuma datang kasih repot orang kampung. Habis itu dia pergi lagi!"