Di antaranya terinspirasi dari warna tumbuhan, seperti bancana kaluku bula (bakal buah kelapa), dalima (buah delima), kambana paratukala (bunga labu), kambana tangkurera (bunga belimbing asam), ontimu jawa (Semangka), dan lumuna uwe (lumut yang menempel pada sumur).
Lalu ada katamba gawu (warna biru langit cerah), tambaga, ntrouwe (pelangi), ontolu hole (telur goreng), dan burana gola male’i (rebusan gula merah).
Kata Wa Sada, umumnya semua sarung itu memiliki pola garis etnis yang kuat dan berbagai warna. Antara lain warna merah, merah jambu, coklat, kuning, jingga, putih, hitam, biru, dan hijau adalah jenis warna yang sering dikombinasikan sesuai nama-nama sarung.
Dalam sebuah sarung terdapat tiga sampai lima macam warna benang yang digunakan sehingga menghasilkan motif yang indah dipandang mata. Namun, untuk mengahasilkan benang lembut nan kuat, para wanita petenun biasa menggunakan alat tradisional Kagantara untuk proses pemintalan.
Kemudian dilanjutkan dengan tahapan pangururi, yaitu tahapan merapikan benang dan penentuan garis pola sebelum nantinya benang akan ditenun menjadi sebuah sarung. Lalu diikat pada alat tenun tradisional yang bernama tapua.
