Untuk cara menyuluh ikan sendiri  masyarakat masih memanfaatkan lampu strongke dengan bahan bakar miyak tanah. Namun, karena perkembangan jaman, akhirnya masyarakat setempat beralih menggunakan senter cas.

Hal yang uniknya lagi adalah ketika mereka akan pergi menyuluh, masyarakat akan melihat putaran bulan untuk memastikan tingkat kesurutan air laut.

Kebiasaan tersebut sudah dilakukan orang-orang tempo dulu, dengan memanfaatkan penanggalan bulan untuk melihat musim angin.

“Biasanya masyarakat setempat akan melihat putaran bulan. Dengan hal itu, masyarakat akan melihat musim ikan bila angin Timur dan bila musim Barat adalah musim Koropunda (Gurita). Hal ini juga memudahkan masyarakat nantinya untuk mendapatkan ikan yang banyak jika melihat pasang surutnya air laut," ungkap Murjito, warga Tomia, Kabupaten Wakatobi, yang gemar menyuluh ikan malam hari.

Dari penelusuran Telisik.id, sebutan untuk kebiasaan ini berbeda-beda di setiap wilayah yang berada di Wakatobi. Jika di Tomia dan Kaledupa menyebutnya Hesurabi, maka lain halnya dengan masyarakat Binongko. Mereka menyebutnya dengan Hekente.