Jika dicermati, PDIP ditenggarai khawatir Provinsi Jawa Tengah akan semakin kuat dirembesi oleh Gibran. Sebab Gibran masih menjabat dan bekerja sebagai walikota Solo. Gibran hanya mengajukan cuti bila diperlukan saja, sesuai ketentuan regulasi dalam kepemiluan.
Narasi meminta mundur kepada Gibran Rakabuming Raka yang merupakan calon wakil presiden (cawapres) dari Koalisi Indonesia Maju (KIM) sudah disampaikan oleh PDIP dan Ganjar, sayangnya respons publik tak bulat sepenuhnya mendukung ide kubu PDIP dan Ganjar meski dengan narasi Gibran tak akan bisa fokus bekerja, sebab regulasi terkait pemilu memang membolehkannya.
Jika dibiarkan sentimen negatif, maka PDIP tampak dipermukaan tergambarkan sedang cemas karena elektabilitas Ganjar-Mahfud MD sedang berada diposisi buncit artinya kemungkinan kalah dan tak lolos putaran kedua semakin tinggi. Karena narasi meminta mundur hanya untuk Gibran semata sudah tak berhasil. Maka narasi mundur yang terlihat bernilai positif untuk penilaian publik adalah tidak sekadar ke Gibran semata.
Ganjar kemudian menarasikan meminta ketiga kandidat lain mundur, disasarnya Muhaimin Iskandar, Prabowo, Gibran, juga termasuk Mahfud MD. Agar fantastis, digunakanlah kata fair dan fokus, meminta semua calon hanya fokus di Pilpres seperti dirinya dan Anies yang sudah selesai menjabat tepatnya sudah menjadi “pengangguran politik.”
Ganjar berharap akan menjadi sentimen positif dari publik kepada PDIP dan Ganjar, kelanjutannya jelas agar dapat mendongkrak elektabilitas pasangan Ganjar-Mahfud.
