‘’Namun, harus diingat bahwa diskusi politik di kedai kopi tidak selalu mencerminkan pandangan atau preferensi masyarakat secara keseluruhan. Kadang kita membahas secara umum tidak melulu tentang 1 pembahasan khusus. Ya namanya juga ruang publik bukan ruang privat jadi kita sesuaikan saja,’’ucapnya.

Selain itu, pengunjung lainnya La Ode Sohibul Mustafa mengungkapkan, sebagai ruang untuk berdiskusi politik, ia mengkoordinir sebuah komunitas yang mendukung salah satu figur politik yang akan maju pada pemilu tahun 2024.

Baca Juga: PKL Tolak Tarif Parkir di Bundaran Kantor Gubernur

‘’Kebetulan kami sedang menyusun strategi jadi mulai sekarang sudah gencar berkumpul dengan anak muda untuk membahas dukungan terhadap figur politik ini. Kalau di kedai kopi kan bisa sambil nongkrong santai jadi tidak membosankan,’’ ungkapnya.

Di beberapa kedai kopi pun banyak figur politik yang terjun langsung duduk bersama komunitasnya atau dengan pengunjung lain, untuk membahas tentang isu politik ataupun kepentingannya. Secara keseluruhan, kedai kopi dapat menjadi ruang publik berpolitik bagi masyarakat. (B)