BOGOR, TELISIK.ID - Perjalanan Susanti mendalami Islam bermula sejak berusia 10 tahun. Rasa ingin tahunya tumbuh saat kerap mendengar lantunan Al-Qur’an yang indah dan teratur dari anak-anak yang mengaji di sekitar tempat tinggalnya, meski saat itu ia hanya bisa mendengarkannya dari pinggir.
Ketika usianya menginjak 14 tahun, penglihatannya perlahan hilang akibat glaukoma. Namun, kondisi tersebut tak melunturkan semangatnya untuk terus mencari ilmu.
Justru di tengah keterbatasan itu, Susanti tetap merawat semangat belajarnya melalui Braille, rekaman audio, kajian, serta bimbingan dari orang-orang di sekitarnya
“Yang saya dengar tuh kayak lagu. Cuma kok suaranya enak. Terus lantunannya kok teratur,” ujar Susanti seperti dikutip dari mui.or.id, Selasa (22/9/2026).
Lahir pada 1974 dengan nama Susana dan berlatar belakang Protestan, Susanti merupakan salah satu dari 43 mualaf dari berbagai daerah.
