“Saya juga berpikir, oh iya ya, memang kalau secara logika Tuhan itu kan nggak berbentuk. Tuhan itu nggak bisa dilihat. Terus saya pelajarin-pelajarin sampai sekarang ini,” tuturnya.
Namun, jauh sebelum mengambil keputusan besar itu, Susanti sudah harus berhadapan dengan ujian hidup yang berat. Sejak berusia 14 tahun, penyakit glaukoma perlahan menggerogoti penglihatannya hingga akhirnya membuat ia kehilangan penglihatan secara bertahap.
Proses kehilangan penglihatannya ia gambarkan berlangsung secara perlahan dan bertahap, bukan terjadi secara tiba-tiba.
“Kalau glaukoma itu berangsur-angsur, karena nggak langsung. Cuma dia setahap-setahap gitu, mundur, mundur, mundur sampai lama-lama,” jelasnya.
Kondisi tersebut tak sedikit pun menyurutkan semangat belajarnya. Di tengah keterbatasan penglihatan yang kian menurun, Susanti terus mencari cara agar tetap bisa membaca dan memahami ajaran Islam.
