Salah satu caranya adalah memanfaatkan huruf Braille dengan pendampingan teman-temannya. Selain itu, ia juga mengandalkan materi-materi pembelajaran berbasis audio.
“Kadang-kadang saya pakai huruf Braille, dengan cara saya membaca dibimbing dengan teman-teman yang mengerti,” ungkapnya.
Susanti tidak hanya belajar secara mandiri, tetapi juga aktif mencari ruang untuk terus bertumbuh. Ia rutin mengikuti berbagai kegiatan keislaman, mulai dari daurah di Firdaus hingga program Dewan Dakwah di Bekasi yang melibatkan para penyandang disabilitas.
Bagi Susanti, keterbatasan penglihatan bukanlah hambatan untuk berhenti menuntut ilmu. Ia meyakini bahwa ilmu adalah bekal berharga yang akan terus dibutuhkan sepanjang hayat.
“Ilmu itu mahal. Yang tadinya nggak tahu jadi kita tahu,” ucapnya.
