Dalam beberapa hal, penyandaran sesuatu kepada Allah SWT juga terjadi. Seperti kata Ka’bah yang memiliki nama lain Baitullah (rumah Alllah). Kata bait disandarkan pada kata Allah. Ini menunjukkan bahwa Ka’bah merupakan tempat yang memiliki kedudukan tinggi dibanding tempat-tempat lainnya.
Melansir nu.or.id, dari hadis tersebut, ada satu hal yang perlu digarisbawahi yaitu kalimat “karena sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan balasan dengannya”. Kalau kita cermati, pasti muncul sebuah pertanyaan besar; bukankah semua ibadah itu akan dibalas oleh Allah SWT? Lalu mengapa dalam hadis di atas seolah hanya puasa yang langsung dibalas oleh-Nya? Seolah menegasikan ibadah-ibadah yang lainnya.
Para ulama berbeda pendapat dalam mengartikan hadis tersebut. Mengapa puasa memiliki keistimewaan di sisi Allah SWT dibanding amal ibadah lainnya? Berikut beberapa pendapat di antaranya.
Baca Juga: Simak Tata Cara Lengkap Salat Tarawih dan Witir Sendiri di Rumah
Pertama, puasa adalah ibadah yang tidak bisa terjerumus dalam riya (pamer). Hal ini sesuai sabda Rasulullah SAW, Artinya, “Pada puasa tidak ada sifat riya (pamer).” Puasa merupakan ibadah yang bersifat abstrak. Artinya ibadah puasa tidak memiliki gerakan yang bisa membedakan antara orang yang sedang berpuasa dengan yang tidak. Sebagai contoh aja, misalkan ada dua orang sedang berjalan beriringan. Yang satu berpuasa dan yang satu lagi tidak. Apakah kita bisa membedakan mana yang puasa dan mana yang tidak? Sulit, bukan?
