Jalur struktural lazim digunakan oleh paslon yang merupakan pengurus partai seperti menggunakan struktur organisasi partai (contoh: Bappilu) dan organisasi underbow yang dibuat oleh partai dari DPP hingga pimpinan  ranting. Sementara jalur non-partai politik lebih banyak digunakan baik oleh paslon yang mempunyai background non-pengurus partai.

Saluran dan strateginya sangat  variatif seperti penggunaan tim  sukses, tim sukses bayangan, praktik beragam patronase dan clientalisme, penggunaan simbul budaya, kekerabatan/kekeluargaan, pendekatan kepada tokoh masyarakat/komunitas, door to door, sampai bantuan sosial COVID-19.

Kemenangan paslon penantang yang menang pilkada karena strateginya lebih variatif dan perpaduan mesin partai dan mesin non partai lebih dinamis dan berjalan efektif. Mesin politik penantang di lapangan lebih bersinergi antara mesin partai, keluarga, tim sukses dengan masyarakat akar rumput sedangkan petahana mesin politik lebih dipusatkan pada elit birokrasi dan elit-elit desa.

Sudah jelas dengan strategi seperti itu penantang lebih menang pada strategi pemenangan karena dan sangat masif dan kompak. Faktor ketiga yang menyebabkan petahana kalah dari penantang yaitu karena kalah dalam mengemas isu. Isu yang dijual oleh penantang sangat mudah diterima oleh para pemilih tradisional baik itu pemilih sosiologis maupun pemilih cultural.

Penantang memainkan isu perubahan, isu keterzaliman dan pembukaan lapangan kerja serta perbaikan ekonomi, Isu perbaikan ekonomi yang dijual penantang sangat tepat dengan kebutuhan dan kesulitan ekonomi dengan adanya COVID-19 saat ini.