“Tidak ada yang meminta pertanggungjawaban Israel. Sayangnya, para korbanlah yang seharusnya memberi tahu kita apa yang terjadi. Israel berpikir bahwa dengan membunuh jurnalis, mereka dapat menyembunyikan informasi [tetapi] di era modern saat ini, siapa pun yang memiliki telepon dapat memberi tahu kami apa yang sedang terjadi,” seperti dikutip dari Aljazeera.com.
Mayadeen, Ghassan bin Jiddo, mencatat bahwa serangan itu terjadi setelah pemerintah Israel mengambil keputusan bulan ini untuk memblokir akses ke situs Al Mayadeen. Jiddo menambahkan bahwa orang ketiga yang terbunuh adalah “kontributor” saluran tersebut.
Namun di balik penyerangan tersebut rupanya Israel memiliki niat lain yaitu mengembangkan ladang gas di Laut Gaza. Media lokal Haaretz mengatakan Amerika Serikat (AS) tengah melobi Israel untuk mengembangkan ladang gas di Laut Gaza.
Penasihat energi utama Presiden AS Joe Biden, Amos Hochstein, kini berada di Israel untuk membahas masalah ini. AS mengatakan ini bisa membantu perekonomian Palestina.
"Kita tidak boleh melebih-lebihkan potensinya, tapi ini benar-benar bisa menjadi sumber pendapatan bagi pemerintah Palestina dan memastikan ada sistem energi independen untuk Palestina," tuturnya dilansir dari Cnbcindonesia.com.
