Sedangkan, pidato keduanya, AHY kemudian memberikan klarifikasi secara terbuka bahwa Partai Demokrat menginginkan pemerintahan Prabowo berhasil, sekaligus Partai Demokrat dapat dipercaya oleh pemerintah. Ini menunjukkan AHY tidak menginginkan pernyataan pertamanya dapat menyebabkan Partai Demokrat di depak dari koalisi pemerintah.
AHY sebagai Ketua Umum Partai Demokrat memiliki kepentingan untuk memperkuat mesin politik partainya. Selain itu, sebagai partai yang berada di pemerintahan, Partai Demokrat tidak mungkin hanya menjadi pendukung pasif. Partai harus memiliki identitas, kaderisasi, basis pemilih, dan figur yang dipersiapkan untuk masa depan.
Oleh karena itu, AHY sebagai ketua umum tentu harus mulai membangun positioning dirinya, agar juga dapat menanamkan citra maupun persepsi, dengan tujuan menarik perhatian dan simpatik publik sekaligus mendongkrak elektabilitasnya. Peluang AHY menuju Pemilu 2029 tak dimungkiri cukup tinggi sebagai kandidat calon presiden atau calon wakil presiden.
AHY mempunyai sejumlah modal politik seperti posisi sebagai ketua umum partai, pengalaman sebagai menteri di dua era yakni Joko Widodo (Jokowi) dan Prabowo, jaringan politik yang dibangun Demokrat maupun Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) selaku Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, serta faktor keluarga bahwa ia anaknya SBY yang pernah menjabat sebagai Presiden keenam.
Meski berbagai modal politik dipunyainya, tetapi tidak otomatis dapat mendorongnya sebagai calon presiden. Problem utama AHY adalah bagaimana meningkatkan elektabilitas dan daya tawarnya. Pilpres bukan hanya persoalan siapa yang memiliki partai, tetapi siapa yang mampu membangun koalisi, memiliki penerimaan publik luas, dan mampu menjadi titik temu berbagai kekuatan politik.
